Seorang pria bernama Naing Tin Lun ditemukan selamat setelah terjebak reruntuhan gempa Myanmar selama sekitar 100 jam lamanya. Padahal kebanyakan korban serupa ditemukan sudah tidak bernyawa.
Dilansir dari CBC, tim penyelamat Myanmar saat itu sedang menyisir salah satu hotel di tengah kota Naypyitaw pada Rabu (2/4/2025).
Tim penyelamat menemukan banyak jasad korban di reruntuhan hotel. Hal tersebut merupakan hal yang wajar karena sudah lewat waktu golden window sejak gempa pertama kali terjadi pada Jumat (28/3/2025) lalu.
Dikutip dari berbagai sumber, golden window (jendela emas) merujuk pada periode waktu krisis untuk menyelamatkan korban bencana gempa. Di waktu itu, biasanya harapan hidup korban masih tinggi. Periode tersebut terjadi pada 72 jam pertama (3 hari).
| Baca Juga: Detik-detik Wanita Thailand Melahirkan di Tengah Gempa Myanmar
Namun betapa terkejutnya tim penyelamat ketika mereka menemukan Naing Lin Tun masih hidup meski dalam keadaan lemas.
Mereka pun segera memastikan keadaan pria 26 tahun lebih dulu sebelum melakukan proses evakuasi.
Dibantu oleh Tim Penyelamat Turki, Naing ditarik keluar dari lubang reruntuhan. Prosesnya memakan waktu hingga 9 jam lamanya.
Dalam video yang beredar, Naing terlihat lemas saat berhasil dievakuasi. Selang infus sudah tertancap di tangannya sebelum dikeluarkan. Tubuhnya kotor karena debu reruntuhan dan dia hanya menggunakan sarung berwarna biru.
Meski telah terjebak di reruntuhan selama sekitar 100 jam, pria tersebut masih sadar dan bisa sedikit bergerak.
Selain Naing Lin Tung, sejumlah korban juga ditemukan selamat secara ajaib. Sehari sebelumnya, seorang wanita berusia 62 tahun berhasil diselamatkan dari reruntuhan bangunan beton di Naypyidaw.
Tidak hanya itu, seorang ibu hamil dan anak berusia 5 tahun juga berhasil diselamatkan di reruntuhan lain pada Senin (31/3/2025).
| Baca Juga: Pemalang Berduka, 2 Jamaah Idul Fitri Tewas Imbas Tertimpa Pohon Tumbang
Sementara itu diberikan sebelumnya, gempa berkekuatan 7,7 M mengguncang Myanmar. Getarannya terasa hingga ke negara-negara sekitarnya, seperti Thailand, Vietnam, dan China.
Hingga Rabu (2/4), jumlah korban meninggal sudah mencapai lebih dari 2.800 orang dan sekitar 4.600 lainnya luka-luka.
Jumlah tersebut masih bisa terus bertambah karena sejumlah orang masih dinyatakan hilang. (*)