Kunjungan Terakhir di Indragiri Hilir, Tenaga Ahli Kementan RI  Akan Sampaikan Usulan Petani ke Menteri 

1 day ago 6

Tempuling – Upaya serius Kementerian Pertanian Republik Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan nasional terus dilakukan hingga ke tingkat akar rumput. Pada Senin (18/5), Tenaga Ahli Kementerian Pertanian RI bidang produksi Prof. Dr. Hasil Sembiring, M.Sc., melaksanakan kunjungan kerja lapangan terakhir di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Fokus utama kunjungan kali ini adalah meninjau langsung lokasi Kelompok Tani Sido Makmur, salah satu penangkar benih padi unggulan di wilayah tersebut.

Kunjungan strategis ini dihadiri oleh sejumlah pejabat kunci dan pemangku kepentingan pertanian di tingkat daerah maupun pusat. Turut mendampingi Prof. Hasil Sembiring antara lain Kepala Dinas Pertanian Indragiri Hilir, Umar Hamdi, S.Pt, Kepala Desa Harapan Jaya, Eko Sugih Santoso, SP, kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Tri Riswanto, serta Dr. Ajat Jatnika dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Hadir pula perwakilan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Riau, ,Kepala Bidang TPH Distan Inhil Surohman, S.ST beserta unsur Forkopimcam Tempuling, Babinsa, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan para penyuluh setempat.

Kegiatan diawali dengan peninjauan langsung ke lahan penangkar benih padi. Prof. Dr. Hasil Sembiring secara cermat memastikan perkembangan kualitas benih lokal yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Sido Makmur. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya adaptasi varietas benih terhadap kondisi iklim suboptimal yang sering terjadi di wilayah pesisir seperti Indragiri Hilir.

“Kami perlu memastikan bahwa benih yang dikembangkan memiliki ketahanan terhadap jenis kondisi lingkungan setempat. Penyesuaian bibit dengan iklim adalah kunci untuk mencegah penurunan angka produksi,” ujar Prof. Hasil Sembiring di lokasi.

Usai peninjauan lahan, tim membuka sesi diskusi terbuka untuk menyerap aspirasi dan kendala yang dihadapi petani di lapangan. Diskusi ini dipandu oleh Koordinator Penyuluh Lapangan, Eko Firmanto. Suasana diskusi berlangsung hangat namun serius, mengingat Desa Harapan Jaya merupakan daerah “oplah tambahan” atau daerah penyangga yang menjadi fokus utama dalam pencapaian target produksi padi nasional.

Dalam forum tersebut, Manager Brigade Pangan Trisula menyampaikan sejumlah kendala operasional yang menghambat produktivitas. Masalah utama yang disoroti adalah keterbatasan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk alat mesin pertanian (alsintan), serta minimnya perawatan dan suku cadang.

Senada dengan itu, Kepala Desa Harapan Jaya, Eko Sugih Santoso, menyoroti masalah infrastruktur. Ia menyatakan bahwa sarana dan prasarana pertanian di desanya masih belum memadai. “Kami sangat membutuhkan dukungan lebih lanjut, baik dari provinsi maupun kabupaten, untuk memperbaiki irigasi dan akses jalan usaha tani agar distribusi hasil panen dan operasional alsintan bisa berjalan lancar,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Indragiri Hilir, Umar Hamdi,S.Pt memberikan tanggapan bijak. Ia berkomitmen untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi petani, khususnya terkait sarana prasarana, pengairan, dan ketersediaan benih unggul. “Kami akan terus berupaya menyelesaikan masalah ini di lapangan. Kolaborasi antara petani, desa, dan dinas terkait harus diperkuat,” Kata Kadistan Inhil

Prof. Dr. Hasil Sembiring menegaskan bahwa semua keluhan dan masukan dari lapangan akan diakomodir dan dilaporkan langsung kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Ia menyebutkan bahwa Indragiri Hilir menjadi barometer penting dalam keberhasilan target produksi pangan nasional.

“Pak Menteri Amran Sulaiman sangat memperhatikan perkembangan di sini. Target kita jelas, yaitu meningkatkan produktivitas dari sebelumnya 4,5 ton per hektar menjadi 5,6 ton per hektar. Untuk mencapai angka ‘5,6’ tersebut, pemanfaatan bantuan pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus dilakukan seefektif dan seefisien mungkin,” tegas Prof. Halis.

Dr. Ajat Jatnika dari BBPP Lembang juga menambahkan poin penting mengenai sumber daya manusia. Ia menyoroti ketidakproporsionalan jumlah tenaga penyuluh dibandingkan dengan luas wilayah sentra pertanian. “Minimnya jumlah penyuluh dan kebutuhan alsintan yang belum terpenuhi sepenuhnya menjadi tantangan tersendiri. Kami akan membawa ini sebagai bahan evaluasi untuk peningkatan kapasitas penyuluhan di masa depan,” katanya.

Di sela-sela diskusi yang berlanjut selepas makan siang di halaman kantor desa, antusiasme tinggi terlihat dari para anggota kelompok tani. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat menyampaikan rasa bangganya dikunjungi oleh tim ahli dari pusat. Baginya, sosok Menteri Pertanian Amran Sulaiman adalah figur istimewa yang inspiratif.

“Salam buat Pak Menteri ya, Pak. Kami senang sekali mendapat perhatian langsung,” ujarnya sambil tersenyum. Ia juga berbagi kisah sukses mengenai program pekarangan pangan lestari. Berkat bimbingan penyuluh, kelompoknya telah berhasil mencukupi kebutuhan sayur-mayur harian dari pekarangan rumah, yang secara signifikan membantu menopang ekonomi rumah tangga anggota KWT.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur, Suyono, juga menyampaikan harapan serupa. Dengan nada akrab, ia meminta tim untuk menyampaikan salam hormat kepada Menteri Amran Sulaiman. Suyono optimis bahwa dengan perhatian penuh dari pemerintah, kesejahteraan petani di Indragiri Hilir akan semakin meningkat.

Diskusi semakin alot dan mendalam ketika Pengawas Alsintan, Anugerah, S.TP., memberikan tanggapan teknis terkait operasional alat dan menjawab pertanyaan spesifik dari Brigade Pangan. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran petani akan pentingnya teknologi pertanian modern dalam meningkatkan efisiensi kerja.

Kunjungan kerja Tim Ahli Kementerian Pertanian RI di Indragiri Hilir ini diharapkan tidak hanya menjadi seremonial belaka, melainkan langkah konkret untuk memecahkan kebuntuan masalah pertanian di daerah. Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan kegigihan petani seperti Kelompok Tani Sido Makmur, target swasembada dan peningkatan produksi pangan nasional diyakini dapat tercapai.

Read Entire Article
Kerja Bersama | | | |