Kran Ekspor Tidak Ditutup, Kadis Perdagangan & Perindustrian Inhil Jelaskan Penyebab Harga Kelapa Turun

4 hours ago 2

Turunnya harga kelapa di tingkat petani dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran di sejumlah daerah penghasil kelapa, termasuk Kabupaten Indragiri Hilir. Di tengah kondisi tersebut, muncul pula isu yang menyebut pemerintah telah menghentikan atau melarang ekspor kelapa bulat ke luar negeri. Pemerintah daerah memastikan kabar tersebut tidak benar dan meminta masyarakat tetap menyikapi situasi secara bijak.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Indragiri Hilir, Dr. Trio Beni Putra mengatakan hingga saat ini pemerintah pusat tidak pernah mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor kelapa. Menurutnya, arah kebijakan pemerintah justru lebih fokus pada penguatan hilirisasi agar komoditas kelapa memiliki nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

“Pemerintah memang mendorong agar kelapa tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk turunan seperti santan maupun VCO. Namun bukan berarti ekspor dihentikan,” pungkas Trio Beni.
Trio Beni menyebut Kementerian Perdagangan sebelumnya juga telah menegaskan bahwa tidak ada rencana moratorium ekspor kelapa bulat. Opsi yang dipertimbangkan pemerintah lebih kepada pengaturan tata niaga dan tarif ekspor agar keseimbangan antara kebutuhan industri domestik dan pasar ekspor tetap terjaga.

Menurut Trio Beni, kondisi harga kelapa saat ini lebih dipengaruhi situasi ekonomi global dibanding faktor kebijakan dalam negeri. Ketidakpastian geopolitik dunia pada awal tahun 2026 menyebabkan terganggunya rantai distribusi dan perdagangan internasional, termasuk untuk komoditas turunan kelapa.
Kemudian Trio Beni mengutarakan bahwa perlambatan permintaan dari pasar luar negeri menyebabkan bahan baku menumpuk di sejumlah industri pengolahan domestik. Akibatnya, kemampuan industri menyerap pasokan kelapa dari petani menjadi terbatas sehingga harga di tingkat kebun ikut mengalami penurunan.

“Ini bukan hanya terjadi di satu daerah saja. Pasar kelapa memang sangat dipengaruhi kondisi global karena sebagian besar orientasinya masih bergantung pada ekspor,” jelas Trio Beni.

Meski demikian, permintaan terhadap produk kelapa sebenarnya masih cukup baik, terutama untuk kebutuhan dalam negeri. Pada periode Ramadan dan Idulfitri lalu, permintaan domestik bahkan sempat meningkat cukup tinggi sehingga pasokan di pasar menjadi terbatas.

Dalam menghadapi situasi saat ini, pemerintah daerah mengimbau petani agar tidak panik dan tetap melihat perkembangan pasar secara menyeluruh. Petani juga didorong mulai mengembangkan produk turunan agar tidak hanya bergantung pada penjualan kelapa bulat.

“Kalau ada peluang, petani bisa mulai mengolah kelapa menjadi kopra, minyak kelapa tradisional, atau memanfaatkan limbah seperti sabut dan tempurung menjadi produk bernilai ekonomi,” tutur Trio Beni.

Selain peningkatan nilai tambah, penguatan kelembagaan petani juga dinilai penting. Melalui kelompok tani maupun koperasi, petani diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam pemasaran hasil panen serta dapat mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi yang terlalu panjang.

Read Entire Article
Kerja Bersama | | | |