Komarudin PDIP soal Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau: Bukan Banteng

10 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua DPP PDIP, Komarudin Watubun merespons santai ritual injak kepala kerbau yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam safari politik perdananya di Lampung pada Jumat (26/6) lalu.

Komarudin mengaku tak mempermasalahkan hal itu sebab logo PDIP bukan kerbau. Dia menegaskan partainya tak memiliki kaitan dengan ritual yang dijalani Jokowi.

"Oh tidak apa-apa, kita kan bukan kepala kerbau, kita kepala banteng. Jadi tidak ada kaitannya itu. Yang bisa menjelaskan urusan injak-menginjak itu kan Pak Jokowi sendiri," kata Komarudin saat dihubungi, Senin (29/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, di luar itu, anggota Komisi II DPR itu menegaskan Jokowi hanya masa lalu bagi PDIP. Sehingga, apapun aktivitas Jokowi, Komarudin berkata partainya tak mau ikut campur dan berkomentar.

Komarudin bilang selama yang diinjak bukan kepala banteng, PDIP tak akan ikut campur.

"Jadi tidak perlu orang PDI Perjuangan menanggapi urusan itu. Bukan banteng. Kecuali yang diinjak kepala banteng, pasti kita berurusan," katanya.

Jokowi menerima gelar "Baginda Pemuka Bangsa" dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6).

Dalam momen itu, Jokowi yang duduk di sebuah kursi lengkap dengan pakaian adat setempat yang dia kenakan, menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah.

Ketua DPP PSI, Bestari Barus memastikan pelaksanaan ritual bukan atas kemauan Jokowi, melainkan masyarakat adat di Lampung sebagai penghargaan atas kontribusi selama menjadi presiden.

"Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut," kata Bestari saat dihubungi, Senin (29/6).

Sementara, tokoh adat Lampung, Mawardi Rahma Harirama yang bergelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, menjelaskan prosesi pemberian gelar adat atau muakhi telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lampung sejak ribuan tahun lalu.

"Prosesi pemberian muakhi (gelar adat) ini memang sudah berlangsung ribuan tahun lalu di Lampung. Ini adalah bagian dari penerapan piil pesenggiri, falsafah budaya Lampung yang mengedepankan nemui nyimah atau silaturahmi," ujar Mawardi.

(thr/fra)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kerja Bersama | | | |