Klaten, CNN Indonesia --
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mendorong pemanfaatan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau akal imitasi (Artificial Intelligence/AI) dalam proses pemugaran candi-candi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan saat peresmian tahap pertama pengembangan atau penataan lanskap situs Candi Plaosan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (21/1) malam.
Fadli menekankan pentingnya percepatan proses pemugaran cagar budaya yang selama ini memakan waktu sangat lama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengakselerasi kinerja pemugaran, tanpa mengabaikan kaidah pelestarian cagar budaya.
"Kita membutuhkan sebenarnya tenaga-tenaga pemugar yang cepat. Karena kalau tidak, ini bisa puluhan tahun nih kayak begini. Saya katakan nih kalau bisa dua tahun selesai gitu ya, dengan teknologi gitu ya. Jadi bukan hanya istilahnya itu susun coba. Cobalah kita pakai teknologi, kalau perlu pakai AI ya, pakai AI," kata Fadli.
Menurut Fadli, teknologi komputasi dan AI semestinya dapat digunakan untuk membantu proses identifikasi dan penyusunan batu-batu candi yang selama ini dilakukan secara manual.
Ia menyebut pendekatan konvensional berpotensi membuat pemugaran berjalan sangat lambat atau tidak efisien.
"Untuk apa kita menemukan teknologi komputer, apalagi sekarang sudah AI ya, tinggal menyusun puzzle batu-batu yang ada. Tentu batu-batu sebagai artefak yang lama kita identifikasi, kalau kurang ya tentu ditambah dengan batu-batu baru. Tentu saja harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan terkait dengan cagar budaya," jelasnya.
Ia bahkan membandingkan lamanya waktu pemugaran perwara Prambanan yang berlangsung puluhan tahun dengan kemungkinan percepatan apabila teknologi dimanfaatkan secara optimal.
Perwara sendiri merupakan candi kecil pendamping atau pengawal yang dibangun di sekitar candi utama dalam sebuah kompleks percandian.
Fadli mengatakan pemugaran satu perwara Candi Prambanan dengan teknik konvensional butuh waktu hampir satu tahun. Padahal, Prambanan memiliki lebih dari 200 perwara, demikian pula untuk Plaosan.
"Karena saya melihat Prambanan perwaranya puluhan tahun enggak selesai. Kalau pakai teknik sekarang mungkin kita masih nunggu 50 tahun lagi juga belum selesai ya. Kalau cuma setahun bisa satu perwara 11 bulan gitu. Menurut saya nih bisa dua bulan, sebulan mungkin jangan-jangan bisa satu perwara kalau kita pakai teknologi," ujar politikus Gerindra itu.
Selain pemanfaatan AI, Fadli juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam proses pemugaran. Salah satunya adalah dengan melibatkan siswa SMK dan tenaga-tenaga ahli bangunan, agar tercipta transfer pengetahuan dan percepatan pekerjaan.
"Itu bisa diberikan workshop, mungkin juga dengan tenaga-tenaga tukang, kenek (asisten tukang), pasti kan mereka ini jago-jago, yang ahli-ahli batu, bisa dilibatkan untuk workshop tentang pemugaran. Sehingga kita bisa percepat sehingga perwara yang ada di Candi Plaosan ini bisa berdiri dan batu-batunya tidak berantakan ya seperti yang kita saksikan sekarang," ujar Fadli.
(kum/kid)

3 hours ago
2

















































