Medan, CNN Indonesia --
Dua bulan usai banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara (Sumut), delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara masih terisolasi. Akses menuju wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih, terutama untuk kendaraan roda empat
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan dampak bencana masih dirasakan warga hingga saat ini.
"Wilayah terisolasi sebenarnya sudah bisa dilalui, tetapi hanya menggunakan sepeda motor trail. Kendaraan roda empat belum bisa masuk," kata Sri Wahyuni kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, terdapat empat desa yang masih terisolasi. Dua desa berada di Kecamatan Tukka, yakni Desa Saur Manggita (102 KK) dan Desa S. Kalangan 2 (214 KK). Sementara di Kecamatan Sibabangun terdapat Desa Sibio-Bio (298 KK) dan di Kecamatan Lumut ada Desa Sialogo (254 KK).
Adapun di Kabupaten Tapanuli Utara, empat desa yang masih terisolasi tersebar di dua kecamatan. Di Kecamatan Sipoholon yakni Desa Rura Julu Toruan (5 KK). Sedangkan di Kecamatan Parmonangan terdapat tiga desa yang terisolir masing-masing Desa Hutajulu Parbalik (65 KK), Desa Hutatua (128 KK) dan Desa Pertengahan (178 KK).
Sri Wahyuni menjelaskan, warga di desa-desa tersebut masih bertahan di lokasi masing-masing dan tidak mengungsi ke luar wilayah. Wilayah terisolir karena akses jalan utama menuju desa terputus akibat longsor.
"Warganya masih berada di sana dan terdampak langsung. Akses jalan terputus, tetapi petugas terus menyalurkan bantuan logistik menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki," ujarnya.
BPBD Sumut, tambah Sri Wahyuni memastikan upaya distribusi bantuan dan pemantauan kondisi warga terus dilakukan sambil menunggu perbaikan akses jalan agar kendaraan logistik dapat masuk ke wilayah terdampak.
"Bantuan terus disalurkan oleh petugas gabungan. Perbaikan akses jalan juga dilakukan secara bertahap agar aktivitas dan perekonomian warga bisa kembali berjalan," kata Sri Wahyuni.
Diketahui, banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara sejak 24 November 2025 setelah hujan dengan intensitas tinggi. Bencana tersebut menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan parah di berbagai daerah, terutama di Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan Mandailing Natal.
Selain faktor cuaca ekstrem, kerusakan hutan turut memperparah dampak bencana. Aktivitas perusahaan yang hampir tiga dekade beroperasi di wilayah tersebut berkontribusi besar terhadap kerusakan ekologis.
(fnr/dal)

3 hours ago
3

















































