Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan untuk tidak mewajibkan susu sapi masuk dalam menu program makan bergizi gratis (MBG).
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan keputusan itu diambil karena mempertimbangkan ketersediaan stok susu di daerah. Menurutnya, jika terus dipaksakan, harga jual akan semakin tinggi seiring tingginya permintaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian juga seperti susu yang sekarang ketika tekanan terhadap susu tinggi, kami mengatakan bahwa susu bukan hal yang wajib yang harus diberikan kecuali untuk daerah-daerah yang memiliki sapi perah," kata Dadan dalam rapat kerja di Komisi IX DPR, Selasa (21/1).
Untuk sementara, kata Dadan, menu susu pada MBG boleh disediakan untuk daerah yang memiliki peternakan sapi perah. Di luar itu, daerah bisa menggantinya dengan menu yang memiliki kandungan gizi yang sama dengan susu.
"Susunya bisa digantikan dengan sumber makanan lain yang mengandung protein dan kalsium yang setara dengan susu," ujar dia.
Dadan menyebutkan, sejak awal pihaknya juga telah menghindari keseragaman menu MBG secara nasional.
Menurut dia, keseragaman menu hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti pada 17 Oktober 2025 saat BGN menyajikan menu nasi goreng.
Meski imbasnya, harga telur kala itu naik menjadi Rp3 ribu per butir karena permintaan pasar tinggi untuk MBG.
"Dan hari itu harga telor naik Rp3 ribu karena secara nasional ketika penerima manfaat masih 35 juta, dibituhkan 2.600 ton telor, sehingga kenaikan terjadi," katanya.
Oleh karenanya, lanjut Dadan, dengan tak ada keseragaman menu secara nasional, lonjakan harga karena permintaan produk bisa ditekan. Bukan hanya telur, cara itu juga diberlakukan pada beberapa menu lain seperti ayam.
BGN, kata Dadan, meminta agar SPPG berhenti menyajikan menu ayam saat harganya mulai melonjak dan boleh menggantinya dengan ikan.
"Dan alhamdulillah harga ikan naik, harga telurnya stabil. Demikian juga ketika harga kentang turun, kami meminta kepada seluruh SPPG minimal masak kentang sekali dalam seminggu dan dengan demikian maka harga kentang jadi naik," ujar Dadan.
"Jadi Badan Gizi sekarang mengatur sedemikian rupa untuk produk-produk atau bahan baku yang tekanannya terlalu tinggi, kami anjurkan untuk diganti dengan substitusi," imbuhnya.
(fra/thr/fra)

2 hours ago
2
















































