Pergerakan harga kelapa bulat di tingkat petani kembali menjadi perhatian. Di tengah panen yang cukup melimpah, harga kelapa belum menunjukkan penguatan.
Andi, seorang toke sekaligus eksportir kelapa bulat di Indragiri Hilir, menjelaskan bahwa harga kelapa ditentukan oleh banyak faktor. Menurutnya, pasar luar negeri juga memiliki pengaruh besar terhadap naik turunnya harga yang diterima petani.
Ia menyebut, ketika permintaan dari negara tujuan ekspor meningkat, harga kelapa biasanya ikut terdorong. Namun sebaliknya, saat pembeli dari luar negeri mengurangi pesanan atau menunda pembelian, dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat petani.
“Kalau buyer luar negeri ramai membeli, harga bisa ikut naik. Tapi kalau mereka menahan pembelian, otomatis pembelian di sini juga ikut melambat,” ujar Andi kepada wartawan(10/6/2026).
Menurut Andi, posisi eksportir kelapa bulat sangat bergantung pada kebutuhan buyer di negara tujuan. Eksportir tidak dapat menentukan harga secara sepihak karena harga mengikuti kondisi pasar internasional, termasuk permintaan, standar kualitas, dan kemampuan buyer menyerap barang.
Eksportir juga harus menyesuaikan diri dengan spesifikasi yang diminta pasar luar negeri. Jika harga dianggap terlalu tinggi atau permintaan sedang turun, buyer dapat memilih untuk mengurangi volume pembelian.
“Kami mengikuti pasar. Kalau dari luar negeri sedang sepi, kami juga tidak bisa memaksakan. Kalau buyer tidak mau ambil karena harga dinilai mahal, eksportir pun tidak bisa banyak bergerak. Kami tak berani beli kelapa dulu, takut rugi,” tegas Andi.
Dalam rantai pasok kelapa, eksportir memiliki peran penting sebagai penghubung antara petani dan pasar global. Ketika permintaan ekspor tinggi, eksportir menyerap hasil panen petani dalam jumlah besar. Namun ketika permintaan melemah, transaksi pembelian ikut berkurang.
Kondisi tersebut, kata Andi, yang saat ini sedang terjadi. Pembelian kelapa bulat dari pasar luar negeri belum berjalan normal. Akibatnya, eksportir memilih berhati-hati dan membatasi volume pembelian dari petani.
“Saat ini minim permintaan. Kalau ada pun jumlahnya kecil, dengan harga yang rendah. Penyebabnya bukan karena ekspor dilarang atau dibatasi, tetapi karena permintaan dari luar negeri sedang turun,” ungkap Andi.
Disamping itu Andi menegaskan, “Pemerintah tidak pernah melarang ekspor kelapa bulat. Tidak ada pula kebijakan pembatasan maupun pungutan khusus yang membuat ekspor terhambat. “Tidak ada larangan ekspor kelapa bulat. Tidak ada juga biaya atau pajak khusus untuk ekspor kelapa bulat. Persoalannya murni karena negara tujuan sedang tidak banyak membeli,” tambah Andi.
Melemahnya permintaan ekspor ini berdampak langsung pada petani kelapa. Di saat hasil panen tersedia, pasar tidak mampu menyerap dalam jumlah besar. Akibatnya, harga di tingkat petani ikut tertekan.
Bagi petani yang menggantungkan pendapatan dari penjualan kelapa bulat, kondisi tersebut menjadi tantangan berat. Tanpa permintaan yang kuat dari pasar ekspor, ruang gera eksportir untuk membeli dengan volume besar dan harga lebih baik menjadi sangat terbatas.
Andi berharap permintaan dari luar negeri dapat kembali membaik, sehingga serapan kelapa dari petani kembali meningkat dan harga di tingkat petani dapat berangsur pulih.

4 hours ago
1

















































