Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan banyak negara-negara Islam yang belum melihat hilal atau bulan sabit baru awal Ramadan 1147 Hijriah pada hari ini, Selasa (17/1).
Nasaruddin menyebut kalender hilal global versi Turki pun mencatat besok, 18 Februari 2026, belum masuk 1 Ramadan 1447 Hijriah.
"Adapun posisi hilal di seluruh Indonesia ketinggian berkisar -2 derajat 24 menit 42 detik, berarti itu ... belum hilal berwujud masih di bawah ufuk, hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi di seluruh wilayah kepulauan Indonesia, bahkan Asia Tenggara, bahkan pemerintah-pemerintah di diskusinya, di seluruh negara-negara Islam pun itu belum ada suatu negara Muslim pun yang masuk kategori wujud hilal belum muncul karena masih di bawah ufuk," Nasaruddin usai Sidang Isbat di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan juga kita liat juga kalender hilal global versi Turki itu juga belum mulai Ramadannya besok," ujarnya menambahkan.
Nasaruddin menyampaikan berdasarkan hasil sidang isbat, pemerintah memutuskan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis 19 Februari. Menurutnya, para petugas di 96 titik tidak melihat hilal hingga matahari terbenam.
"Dalam menetapkan awal bulan Kamariah, Indonesia menggunakan visibilitas hilal MABIMS yaitu tinggi hilal (minimal) 3 derajat dan sudut elongasi 64 derajat, ini standarnya," ujarnya.
"Dengan demikian berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari," kata Nasaruddin menambahkan.
Keputusan pemerintah ini membuat awal puasa Ramadan tahun ini berbeda dengan PP Muhammadiyah, yang telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 besok.
Dikutip dari situs resminya, pakar falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar menjelaskan alasan mengapa Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan pada Rabu besok.
Pertama, Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari M sebagaimana tercantum dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.
Penetapan ini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai metode baru yang kini menjadi acuan resmi Muhammadiyah. Ini menggantikan metode wujudul hilal yang sebelumnya digunakan.
"Kedua, implementasi KHGT mensyaratkan keterpaduan tiga unsur utama yang dikenal sebagai Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP). Salah satu parameter pentingnya ialah terpenuhinya posisi hilal setelah ijtimak dengan ketinggian minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di mana saja di permukaan bumi, bukan terbatas pada wilayah tertentu," kata Arwin dikutip dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (17/2).
(fra/isa/fra)

3 hours ago
4















































