Surabaya, CNN Indonesia --
Perobohan bangunan Cagar Budaya Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar No 10, Tegalsari, Surabaya, kembali menjadi perbincangan publik usai Presiden Prabowo Subianto yang mengaku prihatin pada situs-situs bersejarah yang dibongkar.
Bangunan ini dikenal sebagai salah satu tempat siaran tokoh pejuang Sutomo atau Bung Tomo untuk membakar semangat perlawanan Arek-arek Suroboyo kepada sekutu selama Pertempuran Surabaya November 1945.
Tapi itu dulu, kini gedung tersebut sudah rata dengan tanah. Di atasnya saat ini berdiri rumah megah nan mewah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerhati sejarah dari Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo mengatakan pembongkaran gedung bersejarah itu terjadi Mei 2016 silam. Ia bahkan menjadi saksi kunci sekaligus orang pertama yang melaporkan kejadian tersebut.
Kuncar mengatakan saat itu ia sedang melintasi kawasan Jalan Mawar pada pagi hari di 2016. Awalnya, ia mengira bangunan tersebut hanya sedang dalam proses renovasi biasa karena ditutup pagar seng.
"Suatu saat tahun 2016 pagi jam 07.00 WIB. Saya sedang cari makan dan lihat kok ditutup seng, saya pikir cuma direnovasi. Akhirnya tak buka, loh kosong. Itu tak foto, kemudian tak posting [di media sosial]," kata Kuncar saat dikonfirmasi, Selasa (3/2).
Ia bersama kelompok masyarakat pecinta sejarah lain pun melaporkan kejadian itu ke Polrestabes Surabaya. Mereka juga sempat melakukan gugatan hukum ke pengadilan pada 2017 meski akhirnya kalah.
Kuncar mengatakan, rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal seorang pejuang bernama Amin sejak 1935. Lalu pada 1996 gedung itu ditetapkan sebagai cagar budaya bernama 'Rumah Tinggal Pak Amin' dengan latar belakang Tempat Kedudukan Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia atau RBPRI Bung Tomo sebagaimana SK Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996.
"Zaman [penjajahan] Belanda itu rumah Pak Amin, Amin itu pejuang," ucapnya.
Menurut Kuncar, rumah itu memang sempat digunakan Bung Tomo untuk siaran, tapi hanya sementara. Karena kala itu radio perjuangan yang digunakan bersifat mobile atau berpindah-pindah, demi menghindari razia pasukan sekutu.
"Itu mobile, radio mobile begitu loh, [alatnya] sebesar kulkas yang bisa dipindah-pindah. Jadi ketika peristiwa menjelang dan peristiwa pertempuran itu kan awalnya ada di sebuah rumah Jalan Biliton, dari Biliton kemudian pindah di situ. Kira-kira cuma seminggu kemudian pindah lagi ke Tretes, pindah lagi ke Malang," katanya.
Pantauan CNNIndonesia.com di lokasi, jejak Rumah Radio Bung Tomo itu sudah tak tersisa, termasuk plakat cagar budaya yang tak lagi terlihat di depan atau di halaman rumah tersebut.
Di atas tanahnya kini berdiri bangunan rumah mewah nan megah berwarna putih. Halamannya luas dikelilingi tanaman, tembok, hingga pagar setinggi 3-4 meter.
Rumah itu tampak sepi, pintu dan jendelanya tertutup rapat, tak ada orang atau kendaraan apapun di halamannya. Sementara di luar, beberapa mobil terparkir di depan gerbang.
Lebih lanjut, Kuncar juga menjelaskan ia mengenal penghuni rumah tersebut sebelumnya, yakni putri dari Amin yang bernama In. Bertahun-tahun pasca masa pertempuran 1945, sebagian ruangan rumah itu bahkan sempat disewakan sebagai kantor redaksi media massa sebelum akhirnya dijual dan dirobohkan oleh pemilik baru.
Menurut Kuncar, rumah yang memiliki luas sekitar 2.000 meter persegi ini terdiri dari rumah induk dan beberapa paviliun. Sebelum dijual, ahli waris memecah lahan menjadi dua bagian, yakni nomor 12 di sisi selatan dan nomor 10 di utara, yang kemudian dibeli oleh dua pihak berbeda.
"Aku kenal. aku beberapa kali main di situ karena kebetulan di situ disewakan, sebagian ruangannya disewakan jadi kantor redaksi majalah Gatra. Dan tahu kalau kemudian ini Cagar Budaya, banyak cerita lah. Tapi lama, enggak ada hubungan, 2016 kok hilang [dirobohkan]," ucapnya.
Ia jelas menyayangkan hilangnya bangunan bersejarah tersebut. Dia pun meminta Pemerintah Kota Surabaya memperketat regulasi pelestarian bangunan cagar budaya.
Karena sudah terlanjur dikuasai pihak swasta, Kuncar menyarankan agar pemerintah setidaknya memberikan tanda atau prasasti sebagai pengingat bahwa di tempat tersebut dulu berdiri Rumah Radio Bung Tomo.
"Rekomendasi saya, karena sudah rata dengan tanah kan enggak mungkin dikembalikan lagi karena sudah rata. Dulu ada rekomendasi rekomendasi jalan tengah. Bikin tetenger (penanda)," ucapnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengaku prihatin pada situs-situs bersejarah yang kurang dihormati dan dibongkar. Salah satunya Rumah Radio Bung Tomo, di Surabaya.
Hal itu dikatakan Prabowo saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2).
"Saya mau tanya di mana stasiun RRI (Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia/RBPRI) yang digunakan oleh Bung Tomo waktu pertempuran 10 November [1945] apakah masih ada?," kata Prabowo.
Prabowo mempertanyakan keberadaan situs bersejarah yang sangat penting bagi perjuangan kemerdekaan, khususnya di Surabaya tersebut.
"Kadang-kadang kita tidak menghormati sejarah kita, situs-situs bersejarah dibongkar, ini kepala daerah harus memikirkan," ucapnya.
(fra/frd/fra)

2 hours ago
2

















































