Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie angkat bicara meluruskan isu viral yang menyebut 60 ribu calon mahasiswa baru mengundurkan diri dan tidak mendaftar ulang di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Isu tersebut sempat dikaitkan dengan mahalnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Dalam keterangannya, Stella menegaskan bahwa data yang bergulir di masyarakat dan media sosial tersebut merupakan bentuk disinformasi yang salah kaprah secara konteks.
"Akhir-akhir ini sedang viral bahwa 60.000 calon mahasiswa tidak daftar ulang. Benarkah ini? Sebelum kita termakan disinformasi, ayo kita cek dulu datanya," ujar Stella dalam akun Instagram @prof.stellachristie.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stella membeberkan fakta pertama bahwa angka 60 ribu yang ramai diperbincangkan tersebut bukanlah data dari proses seleksi tahun 2026. Data riil untuk tahun ini baru bisa dipetakan secara utuh pada paruh kedua bulan Juli.
"Pertama, 60.000 itu data tahun lalu. Tahun ini pendaftaran jalur mandiri masih berjalan. Kita baru tahu data lengkapnya di pekan ketiga bulan Juli," kata Stella memaparkan lini masa evaluasi data kementeriannya.
Fakta kedua yang diluruskan oleh Wamendikti adalah mengenai pemaknaan angka tersebut. Stella menyebut ada kekeliruan interpretasi publik, di mana mayoritas dari total angka yang beredar sebenarnya bukanlah jumlah orang atau calon mahasiswa yang menyatakan mundur.
"Yang katanya 60.000 calon mahasiswa, ini sebenarnya terdiri dari 42.315 bangku kosong, bukan calon mahasiswa. Artinya, ada 42.315 kesempatan yang belum diambil," ucapnya.
Ia menambahkan bahwa tingginya jumlah daya tampung yang belum terisi merupakan cerminan dari upaya penyediaan ruang kuliah yang telah disiapkan secara maksimal oleh universitas negeri.
"PTN kita sudah bekerja keras menciptakan kesempatan, mudah-mudahan tahun ini lebih banyak bangku yang terisi. Sisanya, 17.816, ini baru calon mahasiswa yang tidak daftar ulang," imbuh ilmuwan kognitif tersebut.
Menjawab asumsi publik bahwa penolakan daftar ulang murni dipicu oleh lonjakan biaya kuliah, Stella mengungkapkan sejumlah alasan berdasar hasil pelacakan kementerian. Berdasarkan data evaluasi, ada faktor preferensi institusi dan ketidaksesuaian minat program studi (prodi).
"Tapi apakah memang karena UKT mahal? Mereka diterima di perguruan tinggi kedinasan, memilih ke sana. Nomor dua, mereka diterima di prodi yang mereka tidak terlalu inginkan, sehingga memilih untuk mendaftar ke prodi di PTS, prodi yang mereka inginkan," tuturnya.
Meski demikian, pihak kementerian tidak menampik adanya kendala pada mekanisme jaring pengaman finansial, khususnya bagi pelamar program bantuan pendidikan.
"Memang ada mahasiswa kita yang mendaftar KIP Kuliah tetapi tidak mendapatkannya," aku Stella.
Sebagai solusi konkret, Stella mengingatkan masyarakat bahwa pemerintah memiliki kebijakan mitigasi bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu melalui kategori UKT Level 1 dan Level 2. Untuk kategori UKT Level 1, nominal biaya telah dikunci secara ketat agar tetap terjangkau.
"Namun untuk para mahasiswa ini bisa mendapatkan UKT level satu yang dibatasi Rp500.000 per semester," jelas Stella.
Secara perhitungan matematis, Stella menggambarkan bahwa beban biaya tersebut setara dengan pengalokasian dana mingguan yang sangat minim jika dikomparasikan dengan pengeluaran konsumsi harian masyarakat kelas pekerja.
"Rp500.000 untuk 15 minggu kuliah satu semester. Artinya, cukup menabung Rp33.000 per minggu. Ini sama dengan mengorbankan mungkin satu mangkok bubur ayam spesial atau satu paket rokok setiap minggunya," kata Stella menganalogikan.
Di akhir penjelasannya, Wamendikti mengimbau seluruh calon mahasiswa baru yang dinyatakan lulus agar tetap optimis dan memanfaatkan hak sanggah administratif jika terkendala masalah ekonomi, alih-alih langsung memilih mundur dari bangku perkuliahan.
"Jadi yang penting untuk kalian yang lulus ke PTN tapi bermasalah ekonomi, jangan termakan disinformasi. Kalian berhak mendapatkan UKT level 1 atau level 2. Tetap semangat!" kata Stella.
(yoa/isn)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
4














































