Jakarta, CNN Indonesia --
Warga yang tinggal disepanjang aliran Sungai Muaro Pisang, Jorong Pasar Maninjau, Nagari (Desa) Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) merasa ketakutan kemungkinan banjir bandang susulan di daerah itu.
"Saya ketakutan tinggal di rumah, karena banjir bandang susulan sering terjadi saat hujan maupun kondisi cuaca panas," kata salah seorang warga Pasar Maninjau, Wita mengutip Antara, Minggu (4/1).
"Hampir setiap malam kami tidak tidur semenjak banjir bandang melanda daerah kami," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunyi gemuruh dari hulu, katanya, hampir terjadi setiap saat, sedangkan tanah longsor dari perbukitan di jalan Kelok 25 pada Rabu (31/12) membuat warga di sepanjang aliran sungai tersebut, sudah mengungsi seluruhnya ke musala, rumah warga, dan tempat lainnya.
Jumlah warga mengungsi mengalami peningkatan dari sebelumnya 25 kepala keluarga, saat ini menjadi 44 kepala keluarga.
"Di musala tempat saya mengungsi, ada 44 kepala keluarga dengan jumlah ratusan orang mengungsi di sini," katanya.
Ia mengakui sudah mengungsi bersama suami dan anak-anaknya ke musala selama tujuh hari karena rumahnya berada dekat aliran Sungai Muaro Pisang.
Anggota DPRD Agam Albert mengatakan luapan air sungai ini merupakan permasalahan yang serius harus disikapi karena berdampak terhadap rumah warga, sehingga masyarakat banyak yang sudah mengungsi.
"Ini perlu kajian ilmiah terhadap kultur tanah yang ada di hulu sungai bahwa perbukitan di salingka Danau Maninjau," katanya.
Ia berharap, seluruh pengambil kebijakan dari pemerintah daerah sampai ke pemerintah pusat mengambil langkah konkret dalam mencarikan solusi agar banjir bandang susulan tidak terulang lagi.
"Ini harus dicarikan solusinya seluruh pihak, agar masyarakat menjadi nyaman dan aman tinggal di sepanjang aliran sungai," katanya.
Sebelumnya, Bupati Agam Benni Warlis mengatakan perlu kajian dan penanganan secara teknis sesuai keilmuan dalam mencari permasalahan yang ada di hulu sungai. Teknis yang dimaksud, katanya, melihat dari hulu dan perjalanan material ke bawah harus ada dasar ilmu untuk penanganan.
Pihaknya meminta Pemprov Sumbar dan BWS V melakukan peninjauan lokasi guna mencari solusi pengendalian air agar material tidak turun ke bawah yang bisa berdampak ke rumah warga.
"Itu yang kita harapkan disamping melakukan penanganan di bawah. Apabila hujan atau tidak hujan, banjir bandang tetap melanda daerah itu," katanya.
(tim/dal)

1 day ago
5
















































