Wamendikdasmen Sebut Tragedi Anak SD di NTT Jadi Peringatan Serius

12 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menyatakan kasus siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri sebagai kasus serius bagi semua pihak.

"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," kata Atip dalam keterangannya, Rabu (4/2).

Atip menjelaskan Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan NTT berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Atip menyampaikan Kemendikdasmen juga berkoordinasi lintas sektor guna memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan.

"Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak," ujarnya.

Atip menyampaikan mendiang tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku.

Namun, ia menyebut Kemendikdasmen menegaskan pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

"Satuan pendidikan bersama orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun komunikasi terbuka di mana setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka, memperkuat kepedulian terhadap kondisi emosional anak, serta memastikan setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai," ucap dia.

Seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.

Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.

Dalam foto yang dilihat, surat itu ditulis tangan dalam bahasa Ngada.

Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga itu ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.

Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.

Dari pemeriksaan kepolisian, diduga sebelum ditemukan tewas tergantung, korban sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena kepada ibunya.

Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibundanya tidak memiliki uang yang cukup.

Ibunda korban, MGT (47) mengaku pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.

Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah.

Dari pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.

(mnf/isn)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Kerja Bersama | | | |