Cerita Warga yang Memilih Perjalanan Mudik di Malam Hari

4 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Memasuki masa angkutan Lebaran 2026, fenomena perjalanan mudik pada malam hari menunjukkan peningkatan yang signifikan di sejumlah ruas tol, termasuk Tol Cikampek menuju ruas Transjawa maupun jalur menuju pelabuhan di Merak dan Ciwandan, Banten.

Salah satunya di ruas tol MbZ, Jasa Marga mencatat lonjakan kendaraan pada malam hari, bahkan mencapai 60,71 persen dibandingkan arus lalu lintas normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai macam alasan diungkap pemudik yang memilih meninggalkan kota perantauannya menuju kampung halaman pada malam hari. Umumnya, paling utama adalah menyiasati ibadah puasa agar tidak terganggu selama di perjalanan alias mokel (batal puasa dengan makan atau minum ).

Pemudik pun memilih berangkat setelah atau menjelang matahari terbenam.

"Karena nunggu buka puasa. Iya, jadi biar puasanya tidak terganggu," kata Maya, pemudik tujuan Bandung saat ditemui tim CNN Indonesia di salah satu rest area Tol Cikampek, Minggu (15/3), seperti dikutip dari tayangan CNNIndonesia TV.

Selain pertimbangan kelancaran ibadah, faktor kenyamanan keluarga juga menjadi pendorong kuat mengapa perjalanan melintasi jalur bebas hambatan di bawah langit gelap terasa lebih diminati.

Cuaca malam yang sejuk dinilai sangat membantu menjaga suasana hati penumpang, terutama anak-anak, agar tetap tenang dan bisa beristirahat di dalam kendaraan.

"Oh karena saya kebetulan bawa anak dua, jadi biar lebih nyantai. Kalau siang kan panas, mungkin anak-anak enggak nyaman gitu," ujar Fajar, pemudik asal Depok yang hendak menuju Cilacap, Jawa Tengah.

Risiko yang perlu diwaspadai

Namun, di balik kenyamanan lalu lintas yang lengang dan udara sejuk malam hari, berkendara di luar jam biologis manusia justru memicu ancaman serius berupa kelelahan ekstrem hingga risiko hilang kesadaran sesaat atau microsleep.

Untuk mengatasi hal tersebut, pengendara diimbau menggunakan manajemen waktu istirahat yang disiplin dan tidak memaksakan diri ketika mengemudikan kendaraan membawa keluarga untuk mudik.

"Kami sarankan bahwa setiap mengemudi 2 sampai 4 jam, kami sarankan untuk istirahat terlebih dahulu. Kalau 2 jam mengemudi, kami sarankan paling tidak istirahat setengah jam," jelas Penanggung Jawab Medis PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, dr. Sri Hindarjo di Posko Mudik Rest Area 57 Tol Cikampek.

Petugas medis juga menegaskan bahwa sebelum menempuh perjalanan malam, pengemudi wajib memiliki kondisi fisik yang prima dengan durasi tidur minimal tujuh jam, serta menghindari konsumsi obat-obatan yang menyebabkan kantuk.

Sri menerangkan tanda-tanda awal yang harus diperhatikan pengemudi untuk beristirahat terlebih dahulu adalah menguap berlebihan. Menurutnya hal itu menunjukkan konsentrasi pengemudi mulai menurun.

Hal tersebut menjadi sinyal keras dari tubuh yang mengharuskan pengemudi segera menepi.

Risiko ini tidak bisa dianggap remeh oleh para pemudik yang akan meninggalkan tempat perantauan untuk berlebaran di kampung halaman tahun ini.

Peringatan tersebut sejalan dengan catatan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang menunjukkan bahwa 60 persen kecelakaan kendaraan darat pada rentang waktu 2024-2025 disebabkan faktor kelelahan atau rasa kantuk saat mengemudi.

[Gambas:Youtube]

(kna/kid)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kerja Bersama | | | |